Langsung ke konten utama

Baru Sadar

Entah mengapa sesudahnya saya menghadapi orang-orang membuat saya jengkel, mudah marah, dan berprasangka buruk—yang dalam pandangan saya mereka bersikap seperti itu, saya selalu teringat kembali pada Filosofi Teras. Muncul begitu saja dalam benak dan pikiran saya. Seperti mengingatkan kembali bahwa saya tidak boleh jengkel, mudah marah, dan berprasangka buruk terhadap orang-orang seperti itu. Karena sikap mereka terhadap kita adalah bukan dibawah kendali kita, sedangkan sikap kita terhadap mereka jelas dibawah kendali kita. Mau semenjengkelkan apa pun sikap mereka terhadap kita—yang diri kita anggap demikian, tetap saja balasan untuk mereka dari sikap kita adalah dibawah kendali kita. Kita bisa saja berbuat sama menjengkelkannya seperti sikap mereka terhadap kita, tapi buat apa? Bukankah ada pilihan lain? Jika kita bisa berbuat baik sebagai balasan bahwa mereka berbuat tidak menyenangkan kepada kita, kenapa enggak? Kenapa kita justru ingin membalas sikap mereka dengan hal yang sama?

Jadi, saya sampai sekarang masih bertanya kepada diri saya sendiri. Apakah Filosofi Teras yang kamu pelajari dari buku yang kamu baca tidak berguna sama sekali? Setelah semua itu, saya baru ingat, inilah gunanya saya mempelajari Filosofi Teras.

Biarkan mereka yang bersikap tidak baik kepada kita menjadi kendali atas diri mereka sendiri, itu bukan hak kita dan jelas bukan kendali kita untuk mengatur sikap mereka agar selalu baik kepada kita. Tapi kita jelas selalu bisa mengatur kendali atas diri kita sendiri agar selalu bisa bersikap baik kepada semua orang tanpa harus jengkel, mudah marah, dan berprasangka buruk jika seandainya mereka bersikap tidak baik kepada kita.

Saya tidak tahu saya dapat pencerahan pagi ini, saya sangat senang apabila saya disadarkan justru oleh orang-orang yang seperti itu. Dengan begitu saya, bahkan Anda, dan kita semua bisa bersyukur bahwa kita masih bisa mengontrol diri kita sendiri atas sikap orang lain terhadap kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana dengan...?

Bagaimana dengan kehilangan seseorang? Malam ini tidak hujan, tapi kau merasakan diguyur oleh air yang begitu deras. Hingga menghantam seluruh tulangmu dan kau merasa berhenti bernapas. Aku rasa kau tidak sedang terkena musibah seperti halnya kecelakaan, tapi kau kehilangan begitu banyak darah. Sampai-sampai wajahmu pucat dan kau kehilangan detak jantungmu dalam beberapa detik. Bagaimana dengan kehilangan seseorang? Apakah begitu menyakitkan sehingga halnya seperti kau bisa melihat dirimu sendiri sedang terbaring di ranjang dengan selang infus yang menancap dalam nadimu? Aku tidak sedang menakut-nakuti. Baru saja kau bilang seandainya kau bisa terbang, kau ingin melihat dunia ini dari kejauhan. Kau ingin melihat orang-orang yang kau sayangi berbahagia dan sehat selalu. Tapi sayangnya keinginanmu belum terwujud. Hari ini begitu banyak air mata yang kau keluarkan. Begitu pula keringat, entah aku salah lihat atau tidak. Sesuatu baru saja direnggut darimu. Kau tampak terduduk lemas di ...

Mengingat Kegagalan

Adakah manusia yang tidak pernah mengalami kegagalan? Jika ada, maka orang tersebut mungkin menjadi orang yang paling beruntung dari sekian banyak orang beruntung di dunia Mengingat kegagalan? Ya, kegagalan sendiri sebenarnya tidak atau pun perlu dilupakan tergantung keinginan orang yang mengalaminya. Boleh saja melupakan kegagalan, tapi mungkin tidak untuk perjuangan sebelum itu. Boleh juga mengingat kegagalan, justru melakukannya bisa jadi sebuah motivasi, namun bisa jadi tidak bagi sebagian orang Kegagalan mungkin tidak terdengar cukup baik bagi sebagian telinga orang-orang, mungkin mereka lebih suka menyebutnya kesuksesan yang tertunda, belum beruntung, atau mungkin masih banyak lagi ungkapan penggantinya yang terdengar lebih baik Tiba-tiba saja memang, aku menulis ini karena aku ingin berbagi sedikit cerita mengenai beberapa kegagalanku dalam menggeluti dunia Karate—khususnya saat mengikuti banyak kejuaraan. Ambil saja hal yang positif, tapi jika ingin mengambil hal ya...