Langsung ke konten utama

Hujan Renjana

Hujan Renjana

Hari ini hujan turun. Membasuh jiwa-jiwa penuh luka. Menepikan rasa sakit hati. Memberikan ketenteraman yang tak pernah ada sebelumnya.

Hari ini hujan turun. Menenangkan hati-hati yang gelisah. Menurunkan rindu yang terpaku di langit. Melayangkan pesan-pesan kebahagiaan.

Hari ini hujan turun. Bukan hujan biasa, jika kau tahu. Hari ini hujan renjana. Dan renjana itu jatuh tepat pada dirimu.


Yang akan membuatmu patah,
:)


Iya, hari ini juga hujan. Aku tahu kau yang mengirim pesan itu kepadaku beberapa tahun yang lalu melalui surat yang dikirim Pak Pos. Aku tahu itu dirimu. Bagaimana bisa? Bisa saja.

Entah mengapa aku selalu suka saat kau berbicara melalui tulisan kepadaku. Dan aku lebih suka saat itu dalam bentuk surat dengan tulisan tanganmu sendiri. Karena sejak dulu aku berpikir bahwa kita mempunyai kesamaan dalam hal hobi dan sikap. Dengan hobi suka menulis dan sikap yang tidak terlalu suka banyak bicara, itu sangat kontras. Kau menyukai tulisan-tulisanku saat pertama kali kita bertemu dan saling menyapa. Berdiskusi dan bertukar pikiran. Aku pun begitu. Aku menyukai semua tulisan-tulisanmu. Bahkan tulisan yang kau buat dengan iseng atau sedang tidak mood sekalipun.

Mulai saat itu aku juga berpikir bahwa kita akan selalu sejalan. Menghabiskan waktu bersama di kedai kopi saat turun hujan. Berbincang mengenai hal-hal yang menyenangkan. Bertukar tulisan dan saling mengoreksi. Menjawab pertanyaan-pertanyaan konyol dalam sebuah permainan yang kita buat sendiri. Betapa menyenangkan saat-saat seperti itu, dulu.

Entah mengapa seiring berubahnya waktu yang terus maju, kau juga ikut berubah dan beringsut mundur menjauhiku. Tatapan matamu tidak lagi teduh. Bicaramu tidak lagi menghangatkan. Langkah kaki kita tidak lagi seiring sejalan. Dan itu tadi, pesan terakhir darimu sebelum kau benar-benar menghilang.

Yah, aku memang tidak bisa menebak apa isi hati dan pikiranmu saat itu. Tapi biarlah. Toh, mungkin kau memang benar-benar ingin sendiri dengan tulisan-tulisanmu. Kau tidak memerlukan aku lagi sebagai teman bertukar tulisan. Dan aku, mungkin tidak memerlukanmu lagi untuk menemani menyeduh kopi di hari yang dingin.

Karena sebentar lagi tahun berganti, jadi aku tidak mau berlarut-larut mengekang kebahagiaan diri. Biar saja aku tertawa dengan caraku sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana dengan...?

Bagaimana dengan kehilangan seseorang? Malam ini tidak hujan, tapi kau merasakan diguyur oleh air yang begitu deras. Hingga menghantam seluruh tulangmu dan kau merasa berhenti bernapas. Aku rasa kau tidak sedang terkena musibah seperti halnya kecelakaan, tapi kau kehilangan begitu banyak darah. Sampai-sampai wajahmu pucat dan kau kehilangan detak jantungmu dalam beberapa detik. Bagaimana dengan kehilangan seseorang? Apakah begitu menyakitkan sehingga halnya seperti kau bisa melihat dirimu sendiri sedang terbaring di ranjang dengan selang infus yang menancap dalam nadimu? Aku tidak sedang menakut-nakuti. Baru saja kau bilang seandainya kau bisa terbang, kau ingin melihat dunia ini dari kejauhan. Kau ingin melihat orang-orang yang kau sayangi berbahagia dan sehat selalu. Tapi sayangnya keinginanmu belum terwujud. Hari ini begitu banyak air mata yang kau keluarkan. Begitu pula keringat, entah aku salah lihat atau tidak. Sesuatu baru saja direnggut darimu. Kau tampak terduduk lemas di ...

Mengingat Kegagalan

Adakah manusia yang tidak pernah mengalami kegagalan? Jika ada, maka orang tersebut mungkin menjadi orang yang paling beruntung dari sekian banyak orang beruntung di dunia Mengingat kegagalan? Ya, kegagalan sendiri sebenarnya tidak atau pun perlu dilupakan tergantung keinginan orang yang mengalaminya. Boleh saja melupakan kegagalan, tapi mungkin tidak untuk perjuangan sebelum itu. Boleh juga mengingat kegagalan, justru melakukannya bisa jadi sebuah motivasi, namun bisa jadi tidak bagi sebagian orang Kegagalan mungkin tidak terdengar cukup baik bagi sebagian telinga orang-orang, mungkin mereka lebih suka menyebutnya kesuksesan yang tertunda, belum beruntung, atau mungkin masih banyak lagi ungkapan penggantinya yang terdengar lebih baik Tiba-tiba saja memang, aku menulis ini karena aku ingin berbagi sedikit cerita mengenai beberapa kegagalanku dalam menggeluti dunia Karate—khususnya saat mengikuti banyak kejuaraan. Ambil saja hal yang positif, tapi jika ingin mengambil hal ya...