Langsung ke konten utama

Tentang Melupakan

Aku bergeming. Menerawang jauh ke dalam ingatan. Satu tahun yang lalu, kondisi yang sangat buruk. Waktu itu, bisa disebut aku hampir depresi. Bahkan mungkin sudah depresi, entahlah. Karena kesibukanku setahun lalu berkurang drastis daripada tahun-tahun sebelumnya, aku gagal mengusir rasa sakit itu. Aku gagal membunuh rasa takut, rasa tak percaya. Aku gagal melupakan wajah itu; wajahmu. Satu tahun, dengan beberapa bulannya yang hampir aku habiskan dengan waktu menyendiri, menangis terisak, bahkan menyalahkan diri sendiri. Begitu bodoh, begitu berantakan. Begitu menyesakkan dan memilukan.

Saat itu aku tidak tahu bagaimana cara terbaik melupakan. Memaksa melupakan sama saja memaksa mengingat, dan itu terus-menerus. Kau saat itu tidak tahu, aku terus mencobanya. Namun lagi-lagi, aku tidak pernah berhasil menemukan caranya. Hingga pada saat itu, aku teringat satu hal. Aku benar-benar lalai kalau hal itu begitu dekat dengan kehidupanku. Hal itu sudah menjadi bagian dari kehidupanku pada tahun-tahun sebelumnya. Hal di mana aku bisa memaksimalkan potensi yang aku miliki sekaligus refreshing. Kesibukan. Ya, hal itu adalah kesibukan. Kau tahu? Ternyata hanya dengan kesibukanlah aku bisa membuat bayangan dirimu memudar dari ingatan. Meski perlahan, tapi itu pasti. Meski terlihat melelahkan, menguras banyak waktu, tenaga, dan pikiran, tapi setidaknya rasa sakit itu berkurang. Luka-luka terjahit dengan sendirinya.

Percayalah, saat kesibukan itu datang, kau tidak bisa lagi mengungkung diriku dalam kerangkeng ingatan tentang dirimu. Aku percaya, kesibukan memang sebuah cara yang ampuh untuk mengatasi ingatan tentang dirimu yang terus kembali. Tentang melupakan apa-apa yang pernah kau katakan, apa-apa yang pernah kita alami. Aku juga percaya bahwa kesibukan adalah cara yang ampuh untuk menyingkirkan berbagai kesedihan. Termasuk kesedihan kehilanganmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana dengan...?

Bagaimana dengan kehilangan seseorang? Malam ini tidak hujan, tapi kau merasakan diguyur oleh air yang begitu deras. Hingga menghantam seluruh tulangmu dan kau merasa berhenti bernapas. Aku rasa kau tidak sedang terkena musibah seperti halnya kecelakaan, tapi kau kehilangan begitu banyak darah. Sampai-sampai wajahmu pucat dan kau kehilangan detak jantungmu dalam beberapa detik. Bagaimana dengan kehilangan seseorang? Apakah begitu menyakitkan sehingga halnya seperti kau bisa melihat dirimu sendiri sedang terbaring di ranjang dengan selang infus yang menancap dalam nadimu? Aku tidak sedang menakut-nakuti. Baru saja kau bilang seandainya kau bisa terbang, kau ingin melihat dunia ini dari kejauhan. Kau ingin melihat orang-orang yang kau sayangi berbahagia dan sehat selalu. Tapi sayangnya keinginanmu belum terwujud. Hari ini begitu banyak air mata yang kau keluarkan. Begitu pula keringat, entah aku salah lihat atau tidak. Sesuatu baru saja direnggut darimu. Kau tampak terduduk lemas di ...

Mengingat Kegagalan

Adakah manusia yang tidak pernah mengalami kegagalan? Jika ada, maka orang tersebut mungkin menjadi orang yang paling beruntung dari sekian banyak orang beruntung di dunia Mengingat kegagalan? Ya, kegagalan sendiri sebenarnya tidak atau pun perlu dilupakan tergantung keinginan orang yang mengalaminya. Boleh saja melupakan kegagalan, tapi mungkin tidak untuk perjuangan sebelum itu. Boleh juga mengingat kegagalan, justru melakukannya bisa jadi sebuah motivasi, namun bisa jadi tidak bagi sebagian orang Kegagalan mungkin tidak terdengar cukup baik bagi sebagian telinga orang-orang, mungkin mereka lebih suka menyebutnya kesuksesan yang tertunda, belum beruntung, atau mungkin masih banyak lagi ungkapan penggantinya yang terdengar lebih baik Tiba-tiba saja memang, aku menulis ini karena aku ingin berbagi sedikit cerita mengenai beberapa kegagalanku dalam menggeluti dunia Karate—khususnya saat mengikuti banyak kejuaraan. Ambil saja hal yang positif, tapi jika ingin mengambil hal ya...