Langsung ke konten utama

Menata Ulang

Aku akan menata ulang rasa ini. Entah nantinya tetap berlanjut atau tidak, bertahan atau tidak, biarlah Tuhan yang mengatur. Aku hanya perlu meluruskan apa yang menjadi niatku.

Akhir-akhir ini, waktu berjalan sangat cepat. Atau mungkin hanya perasaanku saja. Tapi sungguh. Rasa ini ternyata juga pudar sangat cepat, mengikuti alur waktu yang terus maju.

Aku harus apa? Tidak ada. Mungkin sekarang juga aku harus berhenti memikirkanmu, berhenti menjejalkan bayanganmu ke dalam pikiranku setiap malam. Berhenti berkhayal hangout berdua denganmu di akhir pekan. Bahkan aku rasa sekarang, itu semua tidak perlu. Benar-benar tidak perlu. Sial sekali aku baru menyadarinya detik ini juga. 

Mungkin benar juga kalimat Tere Liye dalam novelnya,
Lepaskanlah. Maka besok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu.
Sudah larut, mungkin aku terlalu lelah untuk ini semua. Besok-besok kau akan kukabari lagi jika aku sempat. Perihal rasa ini, dan apa saja yang terlintas dipikiran. Jangan pernah bosan, jangan pernah berhenti. Karena aku juga tidak, untukmu.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana dengan...?

Bagaimana dengan kehilangan seseorang? Malam ini tidak hujan, tapi kau merasakan diguyur oleh air yang begitu deras. Hingga menghantam seluruh tulangmu dan kau merasa berhenti bernapas. Aku rasa kau tidak sedang terkena musibah seperti halnya kecelakaan, tapi kau kehilangan begitu banyak darah. Sampai-sampai wajahmu pucat dan kau kehilangan detak jantungmu dalam beberapa detik. Bagaimana dengan kehilangan seseorang? Apakah begitu menyakitkan sehingga halnya seperti kau bisa melihat dirimu sendiri sedang terbaring di ranjang dengan selang infus yang menancap dalam nadimu? Aku tidak sedang menakut-nakuti. Baru saja kau bilang seandainya kau bisa terbang, kau ingin melihat dunia ini dari kejauhan. Kau ingin melihat orang-orang yang kau sayangi berbahagia dan sehat selalu. Tapi sayangnya keinginanmu belum terwujud. Hari ini begitu banyak air mata yang kau keluarkan. Begitu pula keringat, entah aku salah lihat atau tidak. Sesuatu baru saja direnggut darimu. Kau tampak terduduk lemas di ...

Mengingat Kegagalan

Adakah manusia yang tidak pernah mengalami kegagalan? Jika ada, maka orang tersebut mungkin menjadi orang yang paling beruntung dari sekian banyak orang beruntung di dunia Mengingat kegagalan? Ya, kegagalan sendiri sebenarnya tidak atau pun perlu dilupakan tergantung keinginan orang yang mengalaminya. Boleh saja melupakan kegagalan, tapi mungkin tidak untuk perjuangan sebelum itu. Boleh juga mengingat kegagalan, justru melakukannya bisa jadi sebuah motivasi, namun bisa jadi tidak bagi sebagian orang Kegagalan mungkin tidak terdengar cukup baik bagi sebagian telinga orang-orang, mungkin mereka lebih suka menyebutnya kesuksesan yang tertunda, belum beruntung, atau mungkin masih banyak lagi ungkapan penggantinya yang terdengar lebih baik Tiba-tiba saja memang, aku menulis ini karena aku ingin berbagi sedikit cerita mengenai beberapa kegagalanku dalam menggeluti dunia Karate—khususnya saat mengikuti banyak kejuaraan. Ambil saja hal yang positif, tapi jika ingin mengambil hal ya...